SISTEM PEMILIHAN KHALIFAH

khilafah  DALAM sejarah umat  Islam, khususnya sejak  masa  Khulafa’urraasyidin  sepeninggalan sistem Nubuwah di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad saw. Sampai  jatuhnya  Khilafah  Utsmaniyah  di-bawah  kepemimpinan  Khalifah  Abdul Hamid  II  yang  berpusat  di  Istambul, Turki tahun 1924 M. Maka terdapat tiga sistem pemilihan khalifah.

Pertama,  dengan  sistem  Wilayatul ‘Ahd (penunjukan khalifah sebelumnya), seperti  yang  terjadi  pada  Umar  Ibnu Khattab yang ditunjuk oleh Abu Bakar.

Kedua, dengan sistem Ahlul Halli Wal Aqdi  melalui  Majelis  Syura,  sebagai-mana yang  terjadi pada Khalifah Utsman dan  Ali.  Mereka  dipilih  dan  diangkat Majelis  Syura.  Sedangkan  anggota Majelis Syura  itu haruslah orang-orang yang shaleh,  faqih, wara’  (menjaga dari syubhat)  dan  berbagai  sifat mulia  lainnya. Oleh sebab itu, pemilihan Khalifah itu tidak dibenarkan dengan cara demokrasi yang memberikan hak suara yang sama  antara  seorang ulama’  dan  orang jahil, yang shaleh dengan penjahat dan seterunya. Baik sistem pertama atau sistem  kedua,  persyaratan  seorang Khalifah haruslah  terpenuhi  seperti yang di-jelaskan sebelumnya. Kemudian setelah sang khalifah terpilih, maka umat wajib berbai’ah kepadanya.

Kewajiban Khalifah

Sesungguhnya kewajiban Khalifah itu sangatlah berat, wilayah kepemimpinannya bukan hanya  untuk  sekelompok  umat  Islam saja, akan tetapi mencakup seluruh umat Islam sedunia. Wilayah kepemimpinannya bukan hanya pada urusan tertentu,  seperti  ibadah  atau  mu’amalah saja,  akantetapi mencakup  penegakan semua  sistem  agama  atau  syari’ah  dan juga  mencakp  urusan  duniawi  umat. Tanggung  jawabnya  bukan  hanya  terhadap  urusan  dunia,  akan tetapi mencakup urusan akhirat. Tugasnya bukan sebatas  menjaga  keamanan  dalam  negeri,  akan  tetapi  mencakup  hubungan luar negeri yang dapat melindungi umat Islam minoritas  yang  tinggal  di negeri-negeri kafir. Kewajibannya bukan hanya sebatas memakmurkan dan membangun bumi negeri-negeri Islam, aka tetapi  juga harus mampu memberikan rahmat bagi negeri-negeri  non  muslim  (Rahmatan Lil’aalamin)

Tugas Khalifah

  1. Tamkin  Dinillah  (menegakkan agama  Allah)  yang  telah  diridhoi-Nya dengan menjadikannya sistem hidup  dan  perundang-undangana dalam semua aspek kehidupan.
  2. Menciptakan keamanan umat Islam dalam  menjalankan  agama  Islam dari  ancaman  orang-orang  kafir, baik  yang  berada  dalam  negeri Islam maupun  yang  diluar  negeri Islam.
  3. Menegakkan  sistem  ibadah  serta menjauhi  sistem  dan  perbuatan syirik.
  4. Menerapkan  undan-undang  yangada dalam  al-Qur’an,  termasuk Sunnah Rasul n. Denga haq dan adil, kendati terhadap diri, keluarga  dan  orang-orang  terdekat  sekalipun. (Qs. An-Nisaa’:135, Al-Maidah:08 & 48, Shad:22 & 26).
  5. Berjihad di  jalan Allah.

Kesimpulan

1. Khilafah  dan  Khalifah  dua  hal  yang  saling terkait.  Keduanya  merupakan  ajaran  Islam yang  fundamental. Menegakkan Khilafah  dan memilih  Khalifah  hukumnya  wajib.  Semua umat  Islam  berdosa  selama  keduanya  belum terwujud

2. Khilafah belum terbentuk atau belum dianggap ada  sehingga  diangkatnya  seorang  Khalifah yang memenuhi syarat-syarat yang disebutkan di  atas,  dipilih  dan  diangkat  dengan  sistem Syura  Umat  Islam,  dan  mampu  menunaikan tugas  dan  tanggung  jawabnya  sebagai pemimpin  tertinggi umat  Islam sedunia.

Khilafah bukan tujuan, akan tetapi Khilafah adalah alat untuk menegakkan dan menerapkan agama Allah secara menyeluruh dan orisinil. Wallahu A’lam bish-Shawab. (a.rafsanjani/luqmanhamzah.wordpress.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s