ANTARA KHALIFAH & KHILAFAH

AKHIR-AKHIR  ini  banyak yang  mengklaim  menjadi Khalifah  dan  sedang  menerapkan sistem  Khilafah  dalam kehidupan. Di Indonesia saja saat ini, paling tidak ada dua  kelompok  umat  Islam yang  mengklaim  memiliki Khalifah dan sedang menerapkan sistem Khilafah. Khalifah  (pemimpin  tertinggi umat  Islam  sedunia)  dan  Khilafah (sistem  pemerintahan  Islam) memang bagian  dari  ajaran  Islam  yang  fundamental  dan  termasuk  dari  bagian  keimanan.

Pertanyaan nya adalah:

Benarkah berbagai Khalifah dan Khilafah yang bermunculan  saat  ini  benar  adanya  atau sudah  terwujud?  Atau  hanya mimpi  di siang bolong? Atau adakah motivasi kepentingan dan keuntungan duniawi yang ingin dicapai oleh orang-orang dan atau kelompok-kelompok  tertentu  dengan menggunakan  baju  Khalifah  atau  Khilafah, seperti halnya menggunakan baju Jama’ah,  Bai’ah,  Partai  Islam,  Negara Islam dan bahkan baju Kenabian?

Untuk  mengurai  persoalan  tersebut ada empat hal yang perlu dibahas:

  1. Pengertian Khalifah dan Khilafah

Khilafah  dalam  terminologi  politik Islam  ialah  sistem pemerintahan  Islam yang meneruskan  sistem pemerintahan Rasulullah SAW. Dengan  segala aspeknya yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah  Rasul  SAW.  Sedangkan  Khalifah  ialah pemimpin tertinggi umat Islam sedunia atau disebut juga dengan   Imam A’zhom yang  sekaligus  menjadi  pemimpin Negara  Islam  sedunia  atau  lazim  juga disebut  dengan  Khalifatul Muslimin.

Khalifah dan Khilafah  itu hanya  akan  terwujud  bila,:

Pertama,  adanya  seorang Khalifah  saja  dalam  satu masa  yang  diangkat  oleh Umat Islam sedunia. Khalifah tersebut  harus  diangkat  dengan  sistem Syura bukan dengan  jalan kudeta, sistem demokrasi  atau  Kerajaan  (warisan).

Kedua,  adanya  wilayah  yang  menjadi tanah air (wathan) yang dikuasai penuh oleh Umat Islam.

Ketiga, diterapkannya  Sistem  Islam  secara menyeluruh.  Atau dengan kata lain, semua undang-undang dan  sistem  hanya  bersumber  dari Syari’at  Islam  yang  bersumberkan  dan berdasarkan  Al-Qur’an  dan  Sunnah Rasul n. seperti undang-undang pidana, perdata,  ekonomi, keuangan, hubungan internasioanal  dan  seterusnya.

Keempat,  adanya  Masyarakat  Muslim yang  mayoritasnya  mendukung,  berbai’ah  dan  tunduk  pada  Khalifah  (pemimpin  tertinggi)  dan Khilafah  (sistem pemerintahan  Islam  ).

Dan kelima,  sistem Khilafah  yang  dibangun bukan  berdasarkan  kepentingan  sekeping  bumi  atau  tanah  air  tertentu,  se-kelompok kecil umat Islam tertentu dan tidak  pula  berdasarkan  kepentingan pribadi Khalifah atau kelompoknya, me-lainkan  untuk  kepentingan  Islam  dan umat  Islam  secara  keseluruhan  serta tegaknya Kalimat Allah  (Islam)  di  atas bumi. Oleh sebab itu, Imam Al-Mawardi menyebutkan  dalam  bukunya,  “Al-Ahkam  As-Sulthaniyyah”  bahwa  objek Imamah (kepemimpinan umat Islam) itu ialah untuk meneruskan Khilafah Nubuwwah  (kepemimpinan  Nabi SAW.)  dalam menjaga  agama  (Islam)  dan mengatur semua urusan duniawi umat  Islam.(A.Rafsanjani/luqmanhamzah.wordpress.com)

Iklan

6 thoughts on “ANTARA KHALIFAH & KHILAFAH

  1. بــســـم الله الرحمـن الرحـيـم
    Usaha Penegakkan Khalifah
    Oleh : Abu Wihdan Hidayatullah

    Setelah wafatnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam, empat khalifah utama yaitu Abu Bakar, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib r.a., melanjut-kan sistem kepemimpinan dan perwujudan masyarakat wahyu yang telah di awali Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam selama 23 Tahun. Karena sebagai pelanjut, tentu tidak sama konsekwensinya dengan yang mengawali, yakni Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam. Lagi pula keempat khalifah tersebut tidak maksum sebagaimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam.
    Masa khilafah merupakan “Golden Age” (Abad Keemasan), saat itulah syari’at atau hukum-hukum islam sepenuhnya berkembang dan diimplementasikan (diwujudkan) secara sempurna. Mereka adalah para khalifah ideal yang membimbing umat diatas jalan yang benar dan telah menunaikan amanah mereka dengan penuh keimanan dan keikhlasan. Karena alasan inilah mereka dikenal sebagai Khulafaur Rasyidin yakni para khalifah penunjuk jalan kebenaran. Dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
    فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ
    Artinya : “Maka hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin al Mahdiyin” (Musnad Ahmad juz 4 hal 126 –127)

    Pembenahan dan pembangunan umat di masa khulafaur rasyidin berlangsung selama 30 tahun. Hal ini sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam :
    الْخِلاَ فَةُ فِي أُمَّتِي ثَلَاثُونَ سَنَةً ثُمَّ مُلْكٌ بَعْدَ ذَلِكَ
    Artinya : “Kekhilafahan pada umatku tiga puluh tahun kemudian kerajaan setelah itu.” (HR. At Tirmidzi juz 4 hal 503 no. 2226, Kitabul Fitan, Abu Daud Kitabussunah juz 4 hal 221 no. 4646-4647)

    Kejayaan dan kebahagiaan muslimin di masa awal adalah potret paling ideal sepanjang sejarah. Islam benar-benar telah menjadi cahaya dan rahmat bagi alam semesta. Karena itulah kita yakin hanya dengan berpola kepada mereka Insya Allah kejayaan dan kebahagiaan bisa kembali kita nikmati. Imam Malik r.a. berkata :
    لاَ يَصْلُحُ اَمُرُ هَذِهِ اْلأُمَّةِ إِلاَ بِمَا صَلُحَ بِهِ أَوَلُّهَا
    Artinya : “Tidak akan selamat atau maslahat urusan umat ini kecuali dengan apa-apa yang telah menyelamatkannya generasi awalnya”

    Atas dasar inilah Islam hanya dapat ditegakkan dengan cara-cara terdahulu, yakni sunnah Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin. Tidak mungkin Islam ditegakkan dengan cara diluar Islam, baik dengan pola barat maupun pola timur.
    Berbagai usaha yang diperjuangkan kaum muslimin dalam mengembalikan khilafah dengan versinya antara lain adalah :

    Ikhwaanul Muslimin
    Didirikan pada tahun 1928 M. di Mesir oleh Syaikh Hasan Al-Banna (1324-1368 H/1906-1949 M). Berawal dengan sistem usroh (keluarga) beberapa orang tokoh dan ulama Mesir yang menentang kekuasaan Rezim Gamal Abdul Nasher. Secara pesat berkembang di Mesir dan meluas ke berbagai negeri muslim lainnya, hingga ke Indonesia. Sistem perjuangan untuk menuju khilafah melalui tahapan pembinaan sebagai berikut :
    a. Pembentukan individu Islami
    b. Pembentukan keluarga Islami
    c. Pembentukan masyarakat Islami
    d. Pembentukan Negara / Pemerintahan Islami
    e. Penegakkan khilafah dengan memilih dari perwakilan tiap negara, dengan kriteria Imaamah atau Khilafah ; al-Alamah, al-Adalah, al-Kifayah

    Hizbut Tahrir
    Didirikan pada tahun 1953 di Yordania oleh Syaikh Taqyuddin An Nabhani (1909-1979 M). Seiring dengan keruntuhan Turki Utsmani 1924, khilafah wajib ditegakkan kembali di tengah-tengah kaum muslimin. Maka 29 tahun kemudian Hizbut Tahrir berdiri sebagai Partai Politik Islam Internasional yang berjuang untuk mengembalikan Khilafah Islamiyah pasca runtuhnya Turki Utsmani. Khilafah baru bisa berdiri apabila ada daulah Islamiyah. Dengan demikian memiliki kekuasaan menjadi syarat mutlak tegaknya khilafah islamiyah. Apabila di suatu daerah telah menjadi dominan dan berkuasa, maka dibai’atlah seorang khalifah. Selanjutnya seluruh muslimin wajib membai’atnya. Syarat-syarat terbagi menjadi dua, yakni syarat in’iqad dan syarat afdlaliyah. Syarat in’iqad (sahnya) khalifah ada tujuh ; Muslim, laki-laki, baligh, berakal, adil, merdeka, mampu melaksanakan amanah khilafah. Syarat afdlaliyah (keutamaan) ; mujtahid, pemberani dan politikus, keturunan (Quraisy, Bany Hasyim dll).

    Mujahidin
    Gerakan ini diawali dengan peristiwa perang teluk di Timur Tengah tahun 1980-an, kemudian menyusul Jihad Afghanistan, Chechnya, Palestina dan lain-lain. Para tokoh gerakan ini antara lain ; Syaikh Abdullah ‘Azzam, Syaikh Usamah bin Ladin, Syaikh Ahmad Yasin dll. Prinsip-prinsipnya tentang khilafah, antara lain ;
    Tidak benar, untuk jihad harus ada khilafah dulu.
    Tidak ada sahabat atau ulama mu’tabar yang berkata bahwa; tidak ada jihad kecuali bersama khilafah.
    Nash tentang jihad adalah qath’i, jihad akan terus berlangsung sampai hari kiamat. Sama saja keadaannya ada khalifah atau Imaam ‘Aam atau tidak adanya khalifah atau Imaam ‘Aam.
    Tidak ada dalil yang shahih, yang mensyaratkan harus dengan adanya Imaam ‘Aam pada jihad thalabi (offensive), selain pada jihad difa’i (defensive)
    Khilafah Islamiyah yang runtuh tahun 1924, harus ditegakkan kembali dengan melalui i’dad dan jihad fii sabiililah.

    4. Khilafatul Muslimin
    Dimaklumatkan di Lampung – Indonesia pada tahun 1997 oleh Ust. Abdul Qadir Hasan Baraja. Menurutnya, sejak runtuhnya Turki Utsmani 1924, tidak ada satupun gerakan yang menegakkan khilafah. Maka diba’iatlah Ust. Abdul Qadir Hasan Baraja sebagai Amiirul Mu’minin sementara. Kemudian menyebarkan formulir pendaftaran untuk menjadi anggota. Selanjutnya secara bertahap akan diselenggarakan musyawarah dunia dan menetapkan Khalifah yang tetap / permanen.

    III. KEMBALI KEPADA SISTEM “KHILAFAH ‘ALA MINHAAJIN NUBUWWAH

    Menjelang runtuhnya Turki Utsmani dan sesudahnya hingga tahun 1952 muslimin di berbagai dunia termasuk di Indonesia mengadakan musyawarah/konferensi untuk mengembalikan sistem khilafah. Akan tetapi semua usaha ini belum berhasil mewujudkan khilafah.
    Ketidak berhasilan ini lebih banyak disebabkan karena faktor nasionalisme masing–masing pihak yang dibawa ke majelis musyawarah.
    Konferensi Khilafah di berbagai negara, pra dan pasca keruntuhan Utsmaniyyah (1924)
    All India Khilafat Conference, 1919 M di India
    Konferensi Islam International, 1921 M. di Karachi Pakistan
    Dewan Khilafah, 1924 di Mekkah ( dibentuk Syarif Husein Amir)—tidak berlanjut
    Kongres Kekhilafahan Islam, 1926 di Kairo
    Kongres Muslim Dunia, 1926 di Mekkah
    Konferensi Islam Al-Aqsha, Desember 1931 di Yerussalem
    Konferensi Islam International kedua, 1949 di Karachi
    Konferensi Islam International ketiga, 1951 di Karachi
    Pertemuan Puncak Islam, Agustus 1954 di Mekkah
    Konferensi Muslim Dunia 1964 di Mogadishu
    Konferensi Muslim Dunia 1969 di Rabat Maroko —– melahirkan OKI
    Konferensi Tingkat Tinggi Islam, Pebruari 1974 di Lahore Pakistan.
    Setelah mengalami perjalanan yang panjang, sampai dengan tahun 1953 muncullah tiga pertanyaan dalam pemikiran Dr. Syaikh Wali Al–Fattaah :
    Mengapa kaum muslimin senantiasa gagal dalam memperjuangkan Islam?
    Mungkinkah Islam dapat ditegakkan dengan cara di luar Islam?
    Mustahil dalam Islam tidak ada sistem untuk memperjuangkan Islam?
    Dari tiga pertanyaan itulah Wali Al-Fattaah terus-menerus melakukan kajian bersama para ulama saat itu, untuk mencari solusi permasalahan tersebut. Maka beliau menarik kesimpulan; bahwa Islam tidak mungkin ditegakkan dengan cara-cara diluar Islam, termasuk melalui jalur politik parlementer. Hal ini pula yang menjadi dasar beliau mengundurkan diri dari Masyumi.
    Yang memilih keluar dari Masyumi ternyata tidak hanya Wali Al-Fattaah, tapi juga tokoh-tokoh lain yang kecewa dengan keberadaan Masyumi, antara lain : H. Agus Salim, Abdul Gaffar Ismail dan Al-Ustadz H.S.S. Djamaan Djamil. 1
    Dari tahun ke tahun Wali Al-Fattaah mengumpulkan dalil-dalil tentang Khilafah, Jama’ah dan Imaamah. Beliau berhubungan dengan Kyai Maksum (Khadimus Sunnah), KH. Munawwar Khalil, Ust. A. Hasan dll.
    Suatu hari, di akhir tahun 1952 Wali Al-Fattaah mendapat hadiah satu paket buku dari KH. Munawwar Khalil yang berjudul “Kelengkapan Tarikh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.”.
    Buku ini menambah keyakinan Wali Al-Fattaah akan penting dan wajibnya Muslimin kembali kepada Khilafah, ‘alaa Minhaajin Nubuwwah. Setelah berkali-kali diadakan musyawarah dengan para ulama, maka terjadilah pembai’atan beberapa orang ulama dan tokoh saat itu, kemudian pada hari Idul Adha tanggal 10 Dzulhijjah 1372 H/20 Agustus 1953 diumumkan pembai’atan tersebut di gedung Aducstaat (Bapenas sekarang) Jakarta.
    Diantara para ulama yang membai’at awal Wali Al-Fattaah generasi awal adalah :
    – Kyai Muhammad Maksum (Khadimus Sunnah, ahli hadits asal Yogyakarta- Muhammadiyah)
    – Ust. Sadaman (Persis-Jakarta)
    – KH. Sulaeman Masulili (Sulawesi)
    – Ust. Hasyim Siregar (Tapanuli)
    – Datuk Ilyas Mujaindo, dll.
    Kemudian disiarkan melalui media cetak: Harian Keng Po, Pedoman dan Daulat Rakyat, serta media elektronik : melalui Radio Australia dalam bahasa Inggris 22 Agustus 1953 oleh Zubeir Hadid dan di RRI Pusat (1956) oleh Ust. Abdullah bin Nuh dalam bahasa Arab.2 Inilah awal ditetapinya kembali Jama’ah Muslimin dan Imaamnya. 1972 mendapat tanggapan positif dan do’a serta gelar Syaikh kepada Wali Al-Fattaah, dari Raja Feisal –Saudi Arabia
    Sepeninggal Wali Al-Fattaah, 19 Nopember 1976, dibai’atlah H. Muhyiddin Hamidy sebagai Imaam yang kedua dalam Jama’ah Muslimin (Hizbullah). Alhamdulillah dari waktu ke waktu kaum muslimin makin menyadari akan pentingnya kesatuan dan persatuan umat, sehingga secara berangsur muslimin di berbagai daerah dan negeri bergabung dalam satu wadah yang disyari’atkan Allah dan Rasul-Nya, yakni Jama’ah Muslimin dan Imaamnya. MASYAA ALLAH
    Wali Al-Fattaah menegaskan, “Kalau memang telah ada yang lebih dulu muslimin menetapi Jama’ah Muslimin dan Imaamnya, kita makmum. Kami menyadari bahwa Imaam itu tidak boleh dua, kami menyadari bahwa Jama’ah itu tidak boleh dua. Jama’ahnya harus satu dan Imaamnya pun harus satu.” Sebagaimana yang terjadi pada masa Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin Al-Mahdiyyin. (pen)

    Syaikh Abdul Aziz bin Baz berkata : “Termasuk perkara yang tidak diragukan banyaknya kelompok di dalam masyarakat Islam termasuk perkara yang sangat diinginkan oleh syaithan dan musuh-musuh Islam dari kalangan manusia. Karena bila kaum muslimin bersepakat dan bersatu serta mengenal bahaya yang mengancam mereka dan juga mengancam aqidah mereka, maka mereka akan bersemangat membela umat dan aqidah mereka dan beramal di dalam satu shaf (barisan) demi kemaslahatan muslimin dan membentengi agama mereka, negeri-negeri serta saudara-saudara mereka dari bahaya yang mengancam. Hal yang demikian ini tentu tidak disenangi oleh musuh-musuh Islam dari kalangan manusia dan jin. Oleh karena itu musuh-musuh Islam itu bersungguh-sungguh untuk memecah belah barisan muslimin dengan mencerai-beraikan kekuatan mereka dan menebarkan sebab-sebab permusuhan di kalangan mereka. Kita memohon kepada Allah agar Ia mempersatukan kaum muslimin di atas kebenaran dan menyingkirkan dari masyarakat mereka segala fitnah dan kesesatan, sesungguhnya Dia Allah yang mengatur dan menguasainya. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah, Al-Imaam Abdul Aziz bin Baz hal. 203-204)

    Wallahu a’lam bish shawwaab

  2. 1. Apa pengertian Jama’ah Muslimin?

    Pengertian Jama’ah Muslimin (Al-Jama’ah) sebagaimana yang dijelaskan oleh sahabat Rasulullah shallalahu alaihi Wasallam yaitu : “Al-jamaatu huwa mujama’atu ahlulhaqqi wain qollu”(Al-jama’ah adalah tempat berkumpulnya ahli haq walaupun sedikit)

    2. Mengapa muslimin harus berjama’ah?

    Karena diperintah oleh Allah dan Rosul-Nya “Dan berpegang teguhlah kamu sekalian kepada tali(agama) Allah seraya berjama’ah dan janganlah bercerai berai” (QS. Ali Imran : 103) “…Tetapilah jama’ah Muslimin dan imam mereka” (HR. Bukhari Muslim)

    3. Apa pengertian Khilafah?

    Pengertian Khilafah secara etimologi adalah “penggantian”, sedangkan secara terminologi adalah kekhilafahan/kepemimpinan di kalangaan umat Islam sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

    4. Bagaimana hubungan Jama’ah Muslimin dengan Khilafah?

    Jama’ah Muslimin adalah bentuk masyarakat Islam yang dipimpin oleh seorang Imaam. Khilafah adalah bentuk kepemimpinan masyarakat Islam dan ditakhsis oleh Rasulullah dengan Khilafah ‘ala minhajin nubuwwah (Khilafah yang mengikuti jejak kenabian), bukan semata-mata Khilafah.

    5. Apa pengertian Imaamah?

    Menurut lughah (etimologi) artinya sebagai kepemimpinan. Sedangkan menurut istilah (terminologi) sama dengan pengertian khilafah.

    6. Apa pengertian Kholifah?

    Kholafah yang memimpin dalam Khilafah/Kekhilafahan.
    Jama’ah muslimin adalah perintah dari Rasulullah Shallalahu ‘alaihi Wasallam.

    7. Apa perbedaan Jama’ah Muslimin dengan Jama’ah lainnya?

    Jama’ah Muslimin ada perintahnya dari Rasulullah Shallahu ‘alaihi Wasallam “Taljamuu Jamaa’atal Muslimiina wa imaamahum” (Al-Hadits).
    Sedangkan selainnya tidak diketahui dalilnya.

    8. Apa pengertian Bai’at?

    Secara bahasa (etimologi) Bai’at artinya “menjual, barter harta atau perjanjian”, sedang secara istilah (terminologi) Bai’at artinya “jual beli jiwa dan harta dari mu’min kepada Allah dengan Jannah”.

    9. Apa syarat-syarat Bai’at?

    Syarat diterimanya bai’at adalah Muslim dan tidak syirik.

    10. Bai’at apa saja yang ada pada masa Rasulullah?

    Bai’at Aqobah ke-1 dan ke-2 (bai’atun nisa), Bai’atul jihad (perang), Bai’atur Ridlwan, dan Bai’at ‘ala at Thaat.

    11. Apa perbedaan bai’at pada zaman Rasulullah dengan bai’at mengangkat khalifah?

    Bai’at pada zaman Rasul kepada Rasulullah, Bai’at khilafah membai’at seorang kholifah (Imaam) disebut juga Bai’atul Imaaroh (Membai’at seorang Amir).

    12. Apa alasan Jama’ah Muslimin mengklaim (menganggap) diri sebagai Jama’ah yang paling haq?

    Karena diperintahkan oleh Rasullullah dan merupakan Jama’ah yang pertama kali ditetapi oleh Muslimin setelah runtuhnya dinasti Utsmaniyyah di Turki.

    13. Bagaimana tanggapan Jama’ah Muslimin tentang pendapat yang menyatakan bahwa keberadaan Jama’ah Muslimin yang saat ini terkesan ekslusif?

    Mungkin karena mereka belum mengetahui Jama’ah Muslimin secara utuh (Karena kurang memperhatikan sunnah Rasullulah).

    14. Mengapa jika menetapi Jama’ah Muslimin harus melaksanakan bai’at?

    Karena mengikuti contoh/sunnah shahabat ketika mereka membai’at para Khulafaur rasyiddin sebagai Khalifah.

    15. Bagaimana proses pengangkatan Imaamul Muslimin dalam Jama’ah Muslimin?

    Proses pengangkatan Imaamul Muslimin atau pembai’atan Imaamul Muslimin tidak sulit, kita tinggal mencontoh proses pembai’atan Abu Bakar Shidiq menjadi khalifah, dan para Khalifah sesudahnya.

    16. Mengapa kontribusi Jama’ah Muslimin belum begitu terasa oleh umat Islam?

    Insya Allah sesuai dengan kemampuan yang dimiliki, Jama’ah Muslimin selalu memberikan konstribusi terhadap setiap persoalan yang dihadapi Muslimin. Setiap amal tidak perlu senantiasa ditampakkan/diperlihatkan, cukuplah Allah yang melihat.

    17. Apakah proses pencarian/penelusuran Jama’ah-Jama’ah yang ada di seluruh dunia pernah dilakukan lagi di masa sekarang di mana kondisi dunia sudah semakin terbuka?

    Usaha ke arah itu tetap terbuka dan kalau ada yang menyatakan lebih awal serta sesuai dengan khiththah Rasulullah maka Imaam beserta seluruh makmum siap untuk menjadi Ma’mum.

    18. Bagaimana jika muncul Jama’ah Muslimin yang baru dengan landasan yang sama dan didukung oleh mayoritas muslimin?

    Pelaksanaan syari’at berjama’ah tidak tergantung dari mendapat dukungan atau tidak, barometernya bukan dukungan dari manusia melainkan Al-Quran dan As-Sunnah.

    19. Mengapa Jama’ah Muslimin beranggapan bahwa “Islam Non Politik”?

    Pertama, Jama’ah Muslimin (Hizbullah) berkeyakinan bahwa Islam itu wahyu dari Allah Subhanahu Wa ta’ala yang disampaikan oleh malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi Wa Sallam. Sedangkan politik adalah hasil karya pemikiran manusia. Kedua, adalah tidak benar kalau Rasulullah diberi amanat oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala untuk menyebarkan Risalah -Nya dengan jalan “menguasai” manusia di Mekkah dan di Madinah, namun Rasulullah menyebarkan Risalah-nya dengan jalan “tabligh” seperti dapat dilihat dalam Al-Qur`an (QS. 5 : 7). Rasul adalah pemberi nasehat dan memberi tahu hal-hal yang tidak diketahui oleh manusia (QS. 7:62); mengajak/dakwah (QS. 16 :125).

    20. Bagaimana konsep perjuangan Jama’ah Muslimin dalam menyebarluaskan Syari’at Al-Jama’ah dewasa ini yang tidak bisa lepas dari politik?

    Konsep perjuangan Jama’ah Muslimin tidak akan keluar dari Al-Quran dan As-Sunnah Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam dan Sunnah Khulafaur Rasyidin al-Mahdiyyin dalam situasi dunia bagaimanapun.

    21. Bagaimana sikap Jama’ah Muslimin terhadap muslimin yang tidak melaksanakan ba’iat kepada Imaam Jama’ah Muslimin?

    Tetap menganggap mereka sebagai saudara seraya terus menasehati dan mengajaknya untuk sama-sama mengamalkan Islam secara “Kaffah” dalam Al-Jama’ah. Adapun mereka belum berbai’at tidak menjadi alasan ukhuwah sesama muslim menjadi putus.

    22. Bagaimana pandangan Jama’ah Muslimin terhadap kekuasaan?

    Fungsi kekuasaan adalah fungsi politik, sedangkan Jama’ah Muslimin non politik. Jadi mengatur hidup bermasyarakat umat Islam berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah.

    23. Bagaimana jika Jama’ah Muslimin diamanahi kekuasaan?

    Karena kekuasaan adalah milik Allah dan hanya akan diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya, maka siapapun yang memperolehnya harus menunaikannya sesuai dengan perintah-Nya (Al-Qur`an dan Sunnah Rasul).

    24. Apa dasarnya bahwa Imaam pertama Jama’ah Muslimin itu adalah Wali Al-Fattah?

    Karena Wali Al-Fattah adalah orang pertama yang dibai’at sebagai Imaam bagi muslimin setelah runtuhnya dinasti Utsmaniyyah.

    25. Bagaimana hubungan Jama’ah Muslimin dengan Pemerintah Republik Indonesia?

    Hubungan Jama’ah Muslimin dan pemerintah Republik Indonesia alhamdulillah baik. Sebab Jama’ah Muslimin dalam setiap kegiatannya berdasarkan Al-Quran dan As-Sunnah (ibadah) dan UUD 1945 menjamin warga negaranya untuk beribadah sesuai dengan agama/keyakinan yang dianutnya.

    26. Bagaimana sistem (hierarki) kepemimpinan dalam Jama’ah Muslimin?

    Sistem (hierarki) kepemimpinan di Jama’ah Muslimin adalah sederhana, yaitu ada Imaam ada ma’mum. Imaam wajib menggembala ma’mumnya dan ma’mum pun wajib taat kepada Imaam selama Imaam taat kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

    27. Jika khilafah itu sudah ada, mengapa muslimin saat ini masih terpuruk dan menjadi objek mainan orang kafir?

    Masya Allahu kaana wa ma lam yasya lam yakun, la haula wala quwwata illa billahi. Setiap keadaan (menang atau kalah, jaya atau terpuruk) adalah ketetapan Allah subhanahu wa ta’ala yang perlu menjadi ibroh dan nasihat bagi muslimin. Jaya dan menang hanya akan diberikan kepada Muslimin saat Muslimin bersatu dalam satu Jama’ah dengan satu imaamnya dan tidak berpecah belah dalam bentuk berfirqoh-firqoh.

    28. Mengapa Imaam Jama’ah Muslimin tidak tampil ke permukaan mengambil alih urusan Islam dan Muslimin? Jika belum saatnya, kapan dan bagaimana?

    Sepanjang Muslimin tetap berfirqoh-firqoh dan memiliki pemimpinnya sendiri-sendiri, maka komando Imaam tidak akan ada artinya, karena tidak akan didengar dan ditaati. Ketaatan hanya akan diberikan oleh Muslimin yang sudah membai’atnya saja.

    29. Bagaimana sikap Jama’ah Muslimin terhadap perkembangan pemikiran khilafah yang saat ini semakin berkembang luas di tengah-tengah umat?

    Syari’at khilafah ini untuk diamalkan/dilaksanakan bukan hanya diseminarkan atau diperbincangkan, sebagaimana syari’at sholat, zakat, haji dan lain-lain

    30. Bagaimana agar konsep khilafah dan Jama’ah Muslimin ini terlihat realistis di kalangan umat Islam, tanpa menafikan kelompok lain?

    Dengan cara mempraktekkan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari dan mengadakan ta’aruf, da’wah, ta’lim secara terbuka.

    31. Bagaimana Jama’ah Muslimin menanggapai sebagian umat Islam yang lebih memilih tidak membai’at seorang Imaam, asalkan hidup dan beribadah sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah?

    Kita serahkan kepada Allah subhanahu wa ta’ala sambil terus berusaha menyelenggarakan dakwah. Dalam hal ini masih banyak muslimin yang belum mengetahui akan pentingnya bai’at, padahal membai’at khalifah, berjama’ah dan taat adalah unsur-unsur penting dalam ikatan Islam. Sebagaimana atsar sahabat mengatakan: “Tidak akan tegak Islam itu kecuali dengan wujud jama’ah, dan tidak terwujud jama’ah kecuali adanya imaam, dan tidak ada imaam itu kecuali untuk ditaati “.

    32. Bagaimana sikap Jama’ah Muslimin terhadap anggapan bahwa orang-orang Al-Jama’ah lebih mementingkan ikhwannya?

    Ad-Diinu nashihah. Setiap amal yang menyalahi Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dilakukan oleh siapapun perlu diluruskan. Pada prinsipnya yang menjadi dasar acuan adalah prinsip-prinsip ta’awun yang diajarkan Islam itu sendiri

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s