Mengapa Umat Islam Berperang?

Di zaman modern ini banyak pihak menaruh curiga terhadap Islam lantaran disyari’atkannya jihad –sebagai satu bagian ajarannya-, sehingga pada suatu saat Allah membuktikan apa yang telah difirmankan:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar…” (fusilat:53)

Tanpa disadari, mereka akan mengetahui kesiagaan adalah sesuatu yang amat penting, terutama sebagai satu-satunya jalan menuju kedamaian.

Allah telah mewajibkan jihad atas seluruh umat Islam, bukan berarti jihad sebagai media pertikaian atau sebagai media penyaluran ambisi pribadi. Tetapi kewajiban jihad itu dimaksudkan sebagai perlindungan aktivitas dakwah, jaminan bagi suasana perdamaian demi kelancaran berlangsungnya risalah Allah yang dipikulkan dipundak seluruh umat Islam.

Risalah tersebut adalah merupakan hidayah bagi seluruh umat manusiayang selalu mendambakan kebenaran dan keadilan.

Firman Allah swt:

“dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”(Al-Anfal:61)

Apabila seorang muslim turun ke medan perang, maka tujuan utamanya adalah agar kalimatullah agar tetap luhur. Sebab agama telah menggariskan larangan keras , agar jihad tidak dicampuradukkan dengan tujuan-tujuan lain. Mengharap pangkatdengan cara melakukan jihad, adalah suatu perbuatan yang diharamkan. Begitu pula untuk kepentingan popularitas, publitas, keinginan mencari kekayaan, mengharap ghanimah (harta rampasan) dan haya sekedar mencari kemenanagan yang tak beralasan, sangat dilarang di dalam agama. Yang di perbolehkan di dalam melaksanakan jihad ini ialah mengorbankan darah dan nyawa sebagai tebusan bagi akidahnya, demi membela kebenaran petunjuk yang berlaku bagi seluruh umat manusia.

Di dalam sebuah hadits dikatakan:

“Dari Al-harits bin Muslim dari ayahnya, ia berkata bahwa Rasulullah mengirim aku untuk berperang yang digabung dalam satu pasukan. Ketika itu aku tiba ditempat pertahanan, aku menepuk kuda yang aku tunggang agar bisa melewati para sahabat yang berada di depan. Aku disambut musuh di perkampungan Ranin, lalu aku mengatakan kepada mereka: ‘katakanlah Tiada Tuhan melainkan Allah, maka kalian akan aman. ‘mereka itu ternyata mau menuruti perintahku mengucapkan kalimat tauhid. Semua sahabat mencela perbuatanku, mereka mengatakan: ‘Akibat ulahmu, kami tidak mendapatkan ghanimah’. Ketika kami kembali menghadap Rasulullah, mereka menyampaikan peristiwa yang aku lakukan. Kemudian Rasulullah memanggilku dan memuji perbuatanku. Beliau bersabda: ‘ketahuilah, bahwa Allah telahmenetapkan untukmu pahala untuk setiap orang (yang masuk Islam). Adapun aku akan memberikan wasiat untuk orang-orang sesudahku, lalu mereka (meletekkan) stempel dengan stempel beliau yang diberikan kepadaku” (HR Abu Daud)

“Dari Syaddad bin Al-Hadi ra, ia mengatakan: “Seorang badui datang menemui Rasul, lalu mengatakan iman dihadapannya sambil mengatakan: Saya bersedia hijrah bersamamu’. Kemudian Rasulullah menitipkan kepada salah seorang sahabat. Pada suatu ketika, meletuslah perang dan nabi mendapat ghanimah yang sangat banyak yang dibagi-bagikan kepada seluruh sahabatnya, termasuk seorang Badui itu. Ketika ghanimah tersebut diberikan kepadanya, ia mengatakan: ‘Apa ini?’ saya mengikuti anda bukan lantaran barang ini; tetapi saya mengikuti anda agar saya mati dengan panah ditenggorokkan –sambil memegang tenggorokannya- agar aku masuk syurga, ‘nabi menjawab: ‘apabila cita-citamu ini benar, maka Allah akan mengabulkannya’. Belum lama berselang, ia bangkit ke medan pertempuraan dan ia tewas,. Kemudian jenazahnya dibawa dihadapan Rasul. Rasulullah bersabda: ‘apakah dia orang badui itu?’. Para sahabat menjawab: ‘Ya’. Rasul meneruskan sabdanya: ‘Dia berbuat benar terhadap Allah, maka Allah mengabulkan keinginannya’. Kemudian Rasul membungkusnya dengan jubahnya sendiri, dan berdiri shalat jenazah. Do’a yang terdengar melalui mulut Rasul ialah: ‘Ya Allah, ini adalah hamba-Mu yang berhijrah dijalan-Mu  dan gugur dalam keadaan syahid. Aku bersaksi bahwa ia mati syahid’. (HR nasa’i)   

“Dari Abu Hurairah ra ia berkata: “Seorang laki-laki mengatakan kepada Rasulullah: ‘Ya Rasulullah, ada seorang ikut berperang di jalan Allah, sedang ia mengharap harta duniawi. Rasulullah menjawab; ‘Dia tidak akan menperoleh pahala. (Beliau mengulang pernnyataan itu sebanyak tiga kali)”. (HR Abu Daud)

“Dari Abu Musa ra, ia berkata: “Rasulullah ditanya mengenai seseorang yang berperang karena ingin dikatakan sebagai pemberani, karena fantisme, dan karena memamerkan diri. Manakah yang sebenarnya dikatakan fie sabilillah?’ Rasul menjawab: Barangsiapa berperang di jalan Allah demi meluhurkan Kaliamtullah maka dia itu yang fie Sabilillah’. (HR Al -Khasam)

Apabila pembaca memperhatikan peristiwa peperangan yang dilakukan para sahabat, begitu pula mengenai penaklukan negara-negara di dalam rangka perluasan Islam, maka dapat dilihat bahwa para sahabat itu selalu bersikap antipati terhadap materi dan ambisi. Tujuan mereka hanya satu, yaitu memberikan petunjuk kepada manusia tentang kebenaran. Sehingga Kalimatullah menjadi luhur. Para pembaca juga akan melihat, betapa salahnya kaum yang mengatakan bahwa para sahabat itu hanya berkeinginan menguasai bangsa-bangsa lain, menindas dan mencari materi.

(abang)

Iklan

One thought on “Mengapa Umat Islam Berperang?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s