Bencana Untuk Apa Kau Menyapa?

Bencana bertubi-tubi menyentak kita semua, terutama rakyat Indonesia. Bencana ini muncul bersamaan dengan tampilnya pemerintahan SBY sejak 26 Des 2004 sampai dengan 26 Sep 2011. Banyak orang kehilangan kecerdasan analisis terjadinya berbagai macam bencana, sehingga muncul berbagai macam statemen yang mencerminkan kedangkalan dan kesesatan berpikir sebagian dari mereka yang putus asa menghadapi berbagai macam bencana yang dating bertubi-tubi. Semua statemen dan keputus asaan itu dapat disimpulkan secara ringkas dalam kalimat yang menjadi judul tulisan ini
Suatu hal menarik adalah kalimat yang dimuat oleh HU Republika dalam tajuknya 3 Okt 2009 pada alinea tujuh; Kita harus sadar bahwa ancaman gempa akan dataing. Gempa datang tanpa permisi, sebagaimana kematian, bias hari ini, bias nanti, bias besok, bias tahun depan, atau puluhan tahun ke depan. Belum ada alat yang mampu memprediksi gempa sehingga mau tidak mau kita harus pasrah terhadap kondisi ini. Apa yang bias kita lakukan adalah menghindari, terutama menghindari dari jumlah korban yang besar.
Kita sangat prihatin dengan persepsi yang dikemukakan oleh tajuk HU Republika di atas, karena menggambarkan kondisi mental dan intelektual yang tidak cerdas. Karrena apa yang disebut dengan pasrah terhadap kondisi bukanlah ciri makhluk yang berakal, sedangkan manusia adalah makhluk yang berakal. Selain itu pasrah terhadap kondisi juga bukan sikap makhluk yang memiliki intelektualitas, yang dalam memecahkan segala tantangan mampu mencari sebab akibat, kaitan antara satu kejadian dengan penyebab yang lebih mendasar dan bagaimana Tuhan Sang pencipta memberikan solusi bagi manusia untuk menghadapi problematikanya.
Apa yang di tulis oleh HU Republika dalam tajuknya ini  menimbulkan tanda Tanya besar siapa sesungguhnya orang yang mempunyai pemikiran seperti ini apa akidah dan ideologi hidupnya dan seberapa jauh ia memiliki keyakinan terhadap Allah Tuhan pencipta yang menempatkan manusia di muka bumi ini untuk menjalankan tugas-tugas kekhilafahan?. Karena manusia ditempatkan di muka bumi sebagai pengelola alam dengan berbagai macam problematikanya dan sekaligus dibekali perangkat untuk mengatasi problematikanya di muka bumi ini.
Hal ini sesuai dengan firman Allah pada Q.s. Asy-Syams 91:7-10 (……………).
Ayat-ayat ini menegaskan bahwa manusia telah diberi perangkt yang lengkap untuk mengatasi problematikanya dengan tiga macam perangkat. Satu, perangkat fisik; seperti mengatasi kelaparan dengan mengolah pertanian untuk mendapatkan bahan makanan yang cukup. Dua, perangkat intelektual dan mental, untuk menangani penyakit dan gangguan-gangguan kejiwaan dengan menghindari hal-hal yang merusak akal dan rohani. Tiga, perangkat perilaku untuk menciptakan kehidupan yang shalih dan memerangi kehidupan yang mungkar. Maka jika kita menghadapi munculnya bencana dapat kita lakukan analisis dai tiga macam aspek ini. Apakah kerusakan yang dihadapi berkaitan dengan masalah fisik semata-mata atau intelktual dan mental semata-mata atau perilaku semata-mata atau gabungan dari semuanya. Bila merupakan gabungan dari semuanya.
Bagaimana cara menyelesaikannya?. Hal ini merupakan tantangan bagi kaum sekuler, kaum materialisme, kaum atheis, kaum anti syariat Islam untuk memberikan solusi yang tepat. Msks dslsm kasus gempa bumi khususnya dan bencana alam pada umumnya, kita bertanya kepada kaum yang anti Syariat Islam, kaum yang membanggakan intelektualitas dan kehebatan kayanya di bidang keduniaan, bagaimana mereka menyelesaikan masalah ini dari sejal upaya defensif maupun ofensifnya?
Solusi Gaya Sekuler
Berkenaan dengan gempa kaum sekuler memberikan solusi membangun bangunan tahan gempa seperti yang dilakukan di Jepang. Bangunan tahan gempa ini diperkirakan dapat bertahan dari gempa pada kekuatan 10-12 SR. pertanyaannya adalah bagaimana kalau terjaga genpa 12 sampai 20 SR misalnya. Atau bangunan yang dipakai dari bahan-bahan yang lunak sehingga tidak membahayakan manusia dikala terjadi gempa. Tetapi bagaimana kalau bencananya berupa angina dengan kecepatan 200 km per jam atau banji banding dengan kekuatan 200 km per jam. Dapatkan teknik pembangunan semacam ini mengatasi masalah?. Ataukah kita akan mengambil langkah ekstrim kembali ke zaman primitif, manusia tanpa rumah, tanpa bangunan permanent hanya berteduh dibawah pohon sebagaimana kera dan gorilla.
Ini adalah pilihan-pilihan yang masuk akal bagi kaum sekuler, materialisme, atheisme dan anti Syariat Islam, jika sikap yang diambil adalah pasrah kepada kondisi. Kemudian untuk apa bencana itu datang silih berganti dalam kehidupan manusia? Adakah Allah Tuhan maha pencipta memberikan solusinya secara lengkap sehingga manusia dapat melakukan baik secara teknis material maupun secara mental spiritual? Jika tidak, apakah adil Allah Tuhan Maha pencipta menempatkan manusia di muka bumi untuk menjalankan kehidupannya tetapi terus-menerus diganggu keamanan keselamatan dan kenyamanan hidupnya dengan berbagai macam bencana alam? Apakah Tuhan pencipta sekejam itu memperlakukan nasib manusia dan bermain-main dengan nasib manusia?. Menurut anda patutkah hal ini dilakukan oleh yang Maha Adil?.
Solusi Gaya Ulama
Sejak bencana Tsunami ACEH Desember 2004 sampai gempa dahsyat Sumbar September 2009, kalangan ulama di Indonesia dan organisasi-organisasi keagamaan meratapi diri atas terjadinya bencana dan mengajak masyarakat untuk memperbanyak dzikir istighfar, taqarrub kepada Allah tanpa peduli terhadap akar permasalahan yang menjadi dasar Syariat Islam menyelesaikan masalah termasuk menghadapi bencana. Mereka merasa cukup bangga dapat mengumpulkan umat berdzikir sambil menangis di masjid-masjid atau menyelenggarakan kenduri masal atas terjadinya bencana atau membaca Al-Quran selama 40 malam 40 hari untuk para almarhum kurban bencana. Seperti inikah cara yang dituntunkan oleh Allah kepada manusia dalam menyelesaikan masalah?.
Solusi Ilahiyah (Qur’aniyah)
Quran sebagai kalamullah menjelaskan apa yang menjadi kehendak Allah dalam memberikan solusi bagi manusia dalam menghadapi segala macam bentuk tantangan hidup di dunia ini, termasuk segala macam bentuk bencana. Pertama sekali alquran menjelaskan tentang sebab terjadinya bencana.Sebagai penyebab adalah perilaku manusia Qs…..!: “ kerusakan muncul di laut dan di darat akibat dari ulah manusia”. Ayat ini menegaskan bahwa ulah manusia yang tidak benar bukan hanya merusak manusia itu sendiri tetapi juga merusak alam baik darat maupun laut. Tingkat kerusakannya tentu sejalan dengan tingkat kerusakan yang dilakukan manusia itu sendiri. Namun sering kali manusia terhenyak  karena tidak menyadari bahwa kerusakan di darat dan di laut jauh lebih besar dari yang diperkirakan, karena kebodohan manusia itu sendiri menyadari dampak dari kerusakan yang yang ditimbulkan dari ulah-ulah yang rusak. Pemanasan global yang kemudian menyebabkan kekeringan berkepanjangan, munculnya gelombang laut yang  menghempas daratan yang dahsyat, mencair nya es di kutub adalah diantara sebagian kerusakan yang ditimbulkan ulah manusia sebelumnya.
Kedua, alquran menjelaskan bahwa kedzholiman dan kemungkaran yang dilakukan oleh segelintir manusia apalagi oleh mayoritas manusia akan berdampak juga terhadap bencana kemanusiaan , seperti tersebut pada ayat: “…. takutlah kamu sekalian terhadap fitnah yang dilakukan oleh sebagian dari manusia , yang akibat-akibat buruknya tidak hanya menimpa mereka semata-mata….” Ayat ini mengasakan bahwa membiarkan kemungkaran di tengah masyarakat apalagi perbuatan dzholim baik yang dilakukan oleh penguasa maupun oleh rakyat akan berdampak destruktif terhadap masyarakat dan dunia ini secara keseluruhan. Oleh karena itu islam memerintahkan pada umat islam untuk melawan kemungkaran dan kedholiman yang dilakukan oelh siapa pun guna mencegah bencana yang lebih dahsyat di muka bumi ini. Dengan demikian, pada para ulama tidak ada alasan untuk berpangku tangan  membiarkan kemungkran dan kedzholiman yang meraja lela di masyarakat dengan dalih kehilangan kenikmatan duniawinya. Ulama jenis ini adalah bagian dari orang-orang yang mengundang murka Allah di muka bumi.
Ketiga, alquran menjelaskan manusia akan dapat terbebas dari murka adalah baik berupa, baik dalam bencana alam  ataupun gempa bumi, selagi manusia mampu benar-benar mematuhi aturan-aturan allah dalam bentuk ibadah, perilaku social, perilakunya terhadap alam lingkungan dan mematuhi rambu-rambu yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Jaminan ini termaktub dalam Qs.Al araf : 96. Sekiranya penduduk negeri-negeri di dunia ini beriman dan bertaqwa kepada Allah niscaya Allah akan membukakan pintu-pintu berkah dari langit dan dari bumi!. Ayat ini menegaskan bahwa  ada cara manusia dapat menghindari bencana yang menimpa dunia ini dengan cara yang dikehendaki pencipta alam dan manusia, sehingga manusia memperoleh keselamatan , bahkan melimpah rahmat dan berkah kehidupan di dunia ini.
Persoalannya sekarang ialah maukah manusia menggunakan solusi illahillah ini ataukah akan tetap dengan sikap kesombongannya, bersabar menderita dan terus menerus dalam keadaan cemas menjalani kehidupan nya di dunia ini. Solusi illahillah ini sudah jelas, masalahnya ialah manusia mau menggunakan atau atau terus mengingkarinya. Bagi manusia yang berakal sudah pasti menerima solusi yang jelas dan bukan mencari-cari solusi yang terus menerus membawa bencana.
(TAUFAN EL FARES )
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s