Apologi Tim Terjemah Alquran Kemenag

Apologi tim terjemah Alquran Kementerian Agama (Kemenag) terkait penolakannya terhadap ajakan debat publik sebagai solusi atas kontroversi hasil telaah Majelis Mujahidin tentang kesalahan terjemah Quran versi Kemenag memicu aksi terorisme di Indonesia. Tidak saja menghambat tradisi intelektual dan tran paransi informasi, tetapi juga kurang peduli terhadap problem bangsa Indonesia yang terus-menerus diguncang teror. Tim terjemah Alquran Kemenag menolak solusi debat publik, tapi malah memilih polemik melalui media massa.

Gagasan mengoreksi terjemah Quran terbitan Kemenag oleh Amir Majelis Mujahidin Ustaz Muhammad Thalib lahir dari perspektif liberalis yang mengopinikan seolah aksi bom yang terjadi di Indonesia dilakukan oleh kelompok teroris ideologis yang mendasarkan tindakannya pada Alquran. Sejumlah ayat Alquran dituding berpotensi memicu radikalisme, seperti pernyataan Dirjen Bimas Islam Kemenag, Nasaruddin Umar, dalam simposium nasional bertema: “Memutus Mata Rantai Radikalisme dan Terorisme” di Jakarta, Rabu 28/7/2010. “Ada terjemahan harfiyah Alquran yang berpotensi untuk mengajak orang beraliran keras,” katanya. Dia mencontohkan, “Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka…(QS 2:191).

Tudingan Dirjen Binmas Islam Kemenag diikuti dengan diterbitkannya terjemah Al quran untuk tujuan deradikalisasi. Namun, temuan Majelis Mujahidin membuktikan, bukan teks ayat Alquran yang memicu radikalisme, melainkan terjemahan Quran yang salah sehingga melahirkan salah paham. Sebaliknya, Abdul Djamil, Kepala Balitbang dan Diklat Kemenag dan Muchlis M Hanafi, Kepala Bidang Pengkajian Al quran Puslitbang Kemenag, menyatakan tidak ada yang salah da lam terjemah Alquran. (Repub lika, 3/5).

Perbedaan pemahaman teks Alquran tidak selalu muncul dari perbedaan sudut pandang. Teks terjemah yang dibaca rakyat Indonesia disajikan dalam bahasa Indonesia dan dipahami pembaca secara tekstual, bukan berdasarkan persepsi ataupun imajinasi penerjemah. Bagi pembaca yang hanya mampu memahami Alquran melalui terjemahan, kesalahan terjemah berdampak salah memahami teks Alquran. Perhatikan, terjemah surah at-Taubah, ayat 5 versi Kemenag: “Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka dan tangkaplah mereka …”

Padahal, perintah ayat ini bukan membunuh orang musyrik, tetapi memerangi. Antara membunuh dan memerangi memiliki dampak hukum yang berbeda. Membunuh dapat dilakukan perorangan dan sepihak, sedangkan memerangi harus diumumkan secara terbuka dan dilakukan secara kolektif di bawah komando yang jelas. Maka, terjemah tafsiriyahnya, “Wahai kaum mukmin, apabila bulan-bulan haram telah berlalu, maka umumkanlah perang kepada kaum musyrik di mana saja kalian temui mereka di tanah haram…” Simak pula surah at-Taubah, ayat 123 versi Depag.

Munculnya ideologi permusuhan terhadap orang kafir, lalu terjadi konflik horizontal, bahkan pembunuhan sebagai pengamalan teks terjemahan di atas. Maka, bukan salah pembaca, mereka justru korban dari kesalahan terjemah yang menyimpang dari sababun nuzul (sebab turunnya) ayat tersebut. Maka, tidak benar apologi bahwa terjemah Alquran Kemenag bukan pemicu terorisme, hanya karena jumlah teroris sedikit, sementara pengguna terjemahan itu mayoritas penduduk Indonesia.

Bandingkan dengan terjemah tafsiriyah: “Wahai kaum mukmin, perangilah orang-orang kafir yang membahayakan kalian yang berada di dekat negeri kalian agar mereka merasakan kekerasan kalian terhadap mereka …”

Jika minoritas teroris dijadikan dasar pengingkaran, niscaya stigma teroris tidak dilabelkan pada mereka. Bukankah eksistensi terorisme tidak ditentukan jumlah pelakunya, melainkan adanya pelaku teror sekalipun jumlahnya sangat kecil?

Sedangkan faktanya, seorang mantan anggota NII KW 9, Al-Haedar, mengaku korban salah terjemah Alquran. Dapat disaksikan, video klip latihan tersangka teroris, mereka menyitir ayat-ayat Alquran yang terjemahannya persis sama dengan terjemahan Kemenag.

Sekalipun diakui, terdapat kesalahan dan sudah mengalami revisi berulang kali, tapi alih-alih memperbaiki terjemahan, revisi malah menambah kesalahan.

Kapasitas MMI?

Sangat disesalkan, pernyataan salah seorang Ketua MUI, Yunahar Ilyas, yang meragukan otoritas dan kapasitas Majelis Mujahidin mengoreksi terjemah Alquran Kemenag.

Dalam kaitan ini, kapasitas Majelis Mujahidin adalah menunjukkan kesalahan terjemah Alquran Kemenag dan melakukan koreksi atas terjemah tersebut. Meragukan kapasitas dan otoritas institusi Majelis mujahidin adalah kesombongan.

Bukankah Nabi SAW bersabda: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain?”

Berbeda sekali dengan sikap KH Syukri Zarkasi, pimpinan Ponpes Modern Gontor, Ponorogo. Dalam pertemuan dengan MUI 30 November 2010, KH Syukri Zarkasi merespons positif koreksi Majelis Mujahidin.”
Bukan hanya terjemah Alquran Kemenag yang salah, melainkan isi terjemahannya juga salah,” tegasnya.

Solusi atas kontroversi ini, Majelis Mujahidin menawarkan opsi kepada Kemenag RI. Pertama, mengumumkan kepada publik kesalahan-kesalahan terjemah Alquran yang diterbitkan Kemenag.

Kedua, diadakan debat publik atau uji sahih atas koreksi Majelis Mujahidin. Dan ketiga, bila kedua opsi diatas ditolak, Majelis Mujahidin akan melakukan clash action ke pengadilan sesuai hukum yang berlaku.

Irfan S Awwas
Ketua Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s